Sabtu, 25 Agustus 2012

Jilbab untuk Bunga Syurga



            Seperti bunga yang bersemi. Ya.. aku adalah seorang wanita biasa yang baru mengenal indahnya menjadi seorang wanita muslim. Setahun yang lalu, dengan segala kemantapan diri dan hati, aku membulatkan takad untuk menjadi Mu’alaf. Dulunya aku seorang atheisme. Tak ada pegangan hidup, tak ada arah dan tujuan kemana aku harus melangkah, hiduppun seakan berada dipadang yang tandus dengan rasa dahaga yang tak bertepi. Tapi Alhamdulillah, setelah aku bertemu dengan seorang lelaki yang mungkin satu-satunya orang yang peduli kepadaku saat itu, hidupkupun berubah.
            “Indra Azzam” itulah nama yang kini telah merubah hidupku ke arah yang lebih terarah, mengenalkan aku tentang Islam sebagai agama yang Haq yang kini mulai aku cintai.
“Mbak Zahra, kita shalat Ashar berjama’ah yuk mbak !” ajak Fatimah yang tak kusadar sedari tadi berada disampingku. Ya, namaku Siti Zahra, itu adalah nama hijrah pemberian Fatimah dan Azzam untukku, dulunya namaku adalah Clara Zeze. Fatimah adalah adik dari mas Azzam. Aku kini tinggal dengannya untuk mempelajari Islam yang mungkin sangat awam bagiku. Ia seorang ustadzah muda bagiku, ia juga aktif untuk menyampaikan dakwah Islam di kampusnya.
            “Iya Fatimah, mari kita ambil wudhu.” Ucapku
            Kami berdua kemudian shalat Ashar berjama’ah. Selepas shalat , akupun mengambil Al-Qur’an untuk membacanya dengan bimbingan Fatimah. Dengan begitu sabar, Fatimah mengajarkanku mengenal dan membaca ayat-ayat Allah sedikit demi sedikit. Suaranya yang lembut membuat hatiku bergetar kala ia membaca ayat-ayat Allah.
            “Alhamdulillah, sekarang mbak Zahra udah semakin lancar membaca Al-Qur’an-nya.” Ucap gadis cantik yang sangat penyayang ini.
            “Ini semua kan karena bimbingan Fatimah. Tanpa bimbingan dari Fatimah, mbak mungkin tak tahu apa-apa. Semoga Allah panjangkan umurmu wahai ustadzah shalehah.” Ucapku.
“Aamiin yaa Rabbi.. mbak Zahra ini bisa saja, aku belum pantas dipanggil ustadzah toh mbak. Ilmuku masih tak seberapa.” Jawabnya merendah.
“Tapi Fatimah tetap menjadi seorang ustadzah dan tauladan bagi mbak, ustadzah cantik pula.” Kataku memuji. Ia hanya tersenyum dengan amat manis.
            Kemudian kami berdua hanyut dalam pembicaraan mengenai Islam, sampai aku memberanikan diri untuk bertanya mengenai jilbab, karena aku belum bisa mengenakan jilbab sampai sekarang walaupun  Fatimah sering memintaku untuk itu.
“Mmm.. Fatimah..” Ucapku ragu-ragu
“Kenapa mbak?” Tanya Fatimah heran
“Mmm.. mbak terlambat nggak kalau mau mengenakan jilbab?”
“Subhanallah, mbak Zahra mau mengenakan jilbab? Gak ada kata terlambat untuk melakukan perubahan dan kebaikan. Mari kenakan hijab itu, mbak !” Jawabnya dengan begitu semangat.
“Iya Fatimah, mbak kini sudah mantap untuk mengenakan jilbab. Dan mulai saat ini, Insya Allah mbak akan istiqomah mengenakan jilbab.” ucapku dengan penuh keyakinan.
            Malam harinya, setelah melaksanakan shalat Isya, Fatimah menghampiriku yang tengah merapikan jilbab yang kukenakan.
“Subhanallah, mbak Zahra tambah cantik dengan jilbab. Oya mbak Zahra, Fatimah ingin bicara.” Katanya dengan lembut
“Kenapa Fatimah? Silakan bicaralah sayang, tak biasanya Fatimah seperti ini.” Tanyaku heran
“Fatimah ingin menyampaikan amanah, mbak. Tadi mas Azzam telpon Fatimah, menanyakan perkembangan mbak Zahra, Ima bilang mbak sudah mengenakan jilbab sekarang. Dan subhanallah, mas Azzam sangat senang mendengarnya. Dan…..” Iapun berhenti berbicara
“Dan apa Fatimah?” Akupun semakin heran, sedangkan Fatimah hanya tersenyum. Iapun melanjutkan kembali pembicaraan
“Dan ini saatnya, Fatimah menyampaikan ini untuk mbak Zahra, setelah menunggu sekian lama kiranya.”
Fatimah memberikan sebuah kotak berwarna biru muda yang sedikit usang, mungkin karena terlalu lama disimpan. Akupun penasaran untuk membuka kotak tersebut. Dan akupun segera membukanya. Sebuah jilbab berwarna putih tersimpan rapi didalamya. “cantik” gumamku dalah hati. Belum usai, ternyata disana tersimpan pula sebuah kotak suara. Kemudian kuambil dan kunyalakan…
“Assalamu’alaikum Zahra…”
Masya Allah, suaranya kukenal. Ya, itu suara mas Azzam, suara yang aku rindukan.
“Semoga engkau dalam keadaan baik, semoga iman dan Islam-mu senantiasa Allah Ridhoi.
Sebelumnya aku mau minta maaf..
Setelah keIslamanmu kau mantapkan dalam hati dan kau ucapkan dengan lisan. Aku sangat bersyukur dengan semua itu..
Tapi maafkan aku, karena setelah itu, aku langsung pergi berkelana mencari ilmu. Sedangkan kau aku titipkan kepada adikku, Fatimah..
Zahra.. aku menitipakn kotak ini kepada Fatimah sehari sebelum aku berangkat ke Khairo, Mesir. Dengan harapan kau sudah mengenakan jilbab..
Dan inilah saatnya….
Dengan mengharap Ridho Allah.. jika kamu berkenan,
Tunggu aku diperbatasan waktu untuk sama-sama mengejar syurga Allah..
Aku tak tahu sampai kapan aku disini
Aku mungkin harus mencari ilmu dengan waktu yang lama
Aku harap.. jika kamu bersedia, kamu bisa bersabar menungguku
Andai kau tak ingin, aku ralakan.. itu semua adalah pilihanmu..
Semoga kelak Allah pertemukan kita kembali
Jika kita tak bertemu disini,,
Semoga Allah pertemukan kita di syurga
Dan kau tersenyum disana..
Bagaikan bunga syurga yang Allah jaga keindahannya..
Yang hanya permatalah yang bisa melihatnya,,
Salam Rindu, wahai Siti Zahra..
            Akupun menangis bahagia mendengar semua itu. Kemudian aku mantapkan hati dan berkata kepada Fatimah.
“Fatimah.. sampaikan pada mas Azzam, bahwa aku bersedia. Tak peduli berapa lama aku harus menunggu. Aku hanya berharap, jika aku kelak menjadi bunga syurga, itu karena tekadlah yang menanam dan menjaganya.”
“Subhanallah walhamdulillah.. Akan segera Ima sampaikan pada mas Azzam. Semoga Allah senantiasa menjaga jilbab untuk bunga syurga hingga kalian bertemu indah pada waktunya.” Ucap Fatimah penuh syukur.
Kamipun terlarut dalam tangis bahagia.

(Kupu-Kupu Dakwah)
_16 Agustus 2012

Jilbab untuk Bunga Syurga
            Seperti bunga yang bersemi. Ya.. aku adalah seorang wanita biasa yang baru mengenal indahnya menjadi seorang wanita muslim. Setahun yang lalu, dengan segala kemantapan diri dan hati, aku membulatkan takad untuk menjadi Mu’alaf. Dulunya aku seorang atheisme. Tak ada pegangan hidup, tak ada arah dan tujuan kemana aku harus melangkah, hiduppun seakan berada dipadang yang tandus dengan rasa dahaga yang tak bertepi. Tapi Alhamdulillah, setelah aku bertemu dengan seorang lelaki yang mungkin satu-satunya orang yang peduli kepadaku saat itu, hidupkupun berubah.
            “Indra Azzam” itulah nama yang kini telah merubah hidupku ke arah yang lebih terarah, mengenalkan aku tentang Islam sebagai agama yang Haq yang kini mulai aku cintai.
“Mbak Zahra, kita shalat Ashar berjama’ah yuk mbak !” ajak Fatimah yang tak kusadar sedari tadi berada disampingku. Ya, namaku Siti Zahra, itu adalah nama hijrah pemberian Fatimah dan Azzam untukku, dulunya namaku adalah Clara Zeze. Fatimah adalah adik dari mas Azzam. Aku kini tinggal dengannya untuk mempelajari Islam yang mungkin sangat awam bagiku. Ia seorang ustadzah muda bagiku, ia juga aktif untuk menyampaikan dakwah Islam di kampusnya.
            “Iya Fatimah, mari kita ambil wudhu.” Ucapku
            Kami berdua kemudian shalat Ashar berjama’ah. Selepas shalat , akupun mengambil Al-Qur’an untuk membacanya dengan bimbingan Fatimah. Dengan begitu sabar, Fatimah mengajarkanku mengenal dan membaca ayat-ayat Allah sedikit demi sedikit. Suaranya yang lembut membuat hatiku bergetar kala ia membaca ayat-ayat Allah.
            “Alhamdulillah, sekarang mbak Zahra udah semakin lancar membaca Al-Qur’an-nya.” Ucap gadis cantik yang sangat penyayang ini.
            “Ini semua kan karena bimbingan Fatimah. Tanpa bimbingan dari Fatimah, mbak mungkin tak tahu apa-apa. Semoga Allah panjangkan umurmu wahai ustadzah shalehah.” Ucapku.
“Aamiin yaa Rabbi.. mbak Zahra ini bisa saja, aku belum pantas dipanggil ustadzah toh mbak. Ilmuku masih tak seberapa.” Jawabnya merendah.
“Tapi Fatimah tetap menjadi seorang ustadzah dan tauladan bagi mbak, ustadzah cantik pula.” Kataku memuji. Ia hanya tersenyum dengan amat manis.
            Kemudian kami berdua hanyut dalam pembicaraan mengenai Islam, sampai aku memberanikan diri untuk bertanya mengenai jilbab, karena aku belum bisa mengenakan jilbab sampai sekarang walaupun  Fatimah sering memintaku untuk itu.
“Mmm.. Fatimah..” Ucapku ragu-ragu
“Kenapa mbak?” Tanya Fatimah heran
“Mmm.. mbak terlambat nggak kalau mau mengenakan jilbab?”
“Subhanallah, mbak Zahra mau mengenakan jilbab? Gak ada kata terlambat untuk melakukan perubahan dan kebaikan. Mari kenakan hijab itu, mbak !” Jawabnya dengan begitu semangat.
“Iya Fatimah, mbak kini sudah mantap untuk mengenakan jilbab. Dan mulai saat ini, Insya Allah mbak akan istiqomah mengenakan jilbab.” ucapku dengan penuh keyakinan.
            Malam harinya, setelah melaksanakan shalat Isya, Fatimah menghampiriku yang tengah merapikan jilbab yang kukenakan.
“Subhanallah, mbak Zahra tambah cantik dengan jilbab. Oya mbak Zahra, Fatimah ingin bicara.” Katanya dengan lembut
“Kenapa Fatimah? Silakan bicaralah sayang, tak biasanya Fatimah seperti ini.” Tanyaku heran
“Fatimah ingin menyampaikan amanah, mbak. Tadi mas Azzam telpon Fatimah, menanyakan perkembangan mbak Zahra, Ima bilang mbak sudah mengenakan jilbab sekarang. Dan subhanallah, mas Azzam sangat senang mendengarnya. Dan…..” Iapun berhenti berbicara
“Dan apa Fatimah?” Akupun semakin heran, sedangkan Fatimah hanya tersenyum. Iapun melanjutkan kembali pembicaraan
“Dan ini saatnya, Fatimah menyampaikan ini untuk mbak Zahra, setelah menunggu sekian lama kiranya.”
Fatimah memberikan sebuah kotak berwarna biru muda yang sedikit usang, mungkin karena terlalu lama disimpan. Akupun penasaran untuk membuka kotak tersebut. Dan akupun segera membukanya. Sebuah jilbab berwarna putih tersimpan rapi didalamya. “cantik” gumamku dalah hati. Belum usai, ternyata disana tersimpan pula sebuah kotak suara. Kemudian kuambil dan kunyalakan…
“Assalamu’alaikum Zahra…”
Masya Allah, suaranya kukenal. Ya, itu suara mas Azzam, suara yang aku rindukan.
“Semoga engkau dalam keadaan baik, semoga iman dan Islam-mu senantiasa Allah Ridhoi.
Sebelumnya aku mau minta maaf..
Setelah keIslamanmu kau mantapkan dalam hati dan kau ucapkan dengan lisan. Aku sangat bersyukur dengan semua itu..
Tapi maafkan aku, karena setelah itu, aku langsung pergi berkelana mencari ilmu. Sedangkan kau aku titipkan kepada adikku, Fatimah..
Zahra.. aku menitipakn kotak ini kepada Fatimah sehari sebelum aku berangkat ke Khairo, Mesir. Dengan harapan kau sudah mengenakan jilbab..
Dan inilah saatnya….
Dengan mengharap Ridho Allah.. jika kamu berkenan,
Tunggu aku diperbatasan waktu untuk sama-sama mengejar syurga Allah..
Aku tak tahu sampai kapan aku disini
Aku mungkin harus mencari ilmu dengan waktu yang lama
Aku harap.. jika kamu bersedia, kamu bisa bersabar menungguku
Andai kau tak ingin, aku ralakan.. itu semua adalah pilihanmu..
Semoga kelak Allah pertemukan kita kembali
Jika kita tak bertemu disini,,
Semoga Allah pertemukan kita di syurga
Dan kau tersenyum disana..
Bagaikan bunga syurga yang Allah jaga keindahannya..
Yang hanya permatalah yang bisa melihatnya,,
Salam Rindu, wahai Siti Zahra..
            Akupun menangis bahagia mendengar semua itu. Kemudian aku mantapkan hati dan berkata kepada Fatimah.
“Fatimah.. sampaikan pada mas Azzam, bahwa aku bersedia. Tak peduli berapa lama aku harus menunggu. Aku hanya berharap, jika aku kelak menjadi bunga syurga, itu karena tekadlah yang menanam dan menjaganya.”
“Subhanallah walhamdulillah.. Akan segera Ima sampaikan pada mas Azzam. Semoga Allah senantiasa menjaga jilbab untuk bunga syurga hingga kalian bertemu indah pada waktunya.” Ucap Fatimah penuh syukur.
Kamipun terlarut dalam tangis bahagia.

_16 Agustus 2012

Minggu, 27 Mei 2012

Dalam Sebuah Harapan


Mentari bersinar begitu terik, burung-burung berkicau seolah menyambut kedatanganku. Ya, inilah kepulanganku setelah sekian lama berada di Rumah Sakit karena penyakit yang di derita olehku. Dan inilah yang aku rindukan, berada di rumah sederhana yang penuh cinta bersama Abi dan Ummi yang begitu menyayangi dan memperhatikanku. Abi dan Ummi-lah yang setia menemaniku selama kurang lebih 2 minggu berada di Rumah Sakit.
Aku Salma Ainiyah, ‘Aini’ begitu panggilan sayang Abi dan Ummi serta sahabat-sahabat kepadaku. Aku kini duduk di bangku kelas XII SMA, yang sebentar lagi akan melaksanakan ujian akhir untuk kelulusan sekolah. Sahabat-sahabat di sekolahku begitu menyayangiku. Entah kenapa.. tapi yang kurasakan seperti itu.
“Aini, ayo minum obatnya, katanya mau cepat sembuh. Setelah itu lekas shalat Dzuhur ya sayang!” Suara lembut Ummi mengagetkan lamunanku.
“Iya Ummi, Aini segera minum obatnya.” Jawabku pendek.
Begitulah Ummi, dalam kesibukan apapun ia selalu mengingatkanku untuk shalat bahkan di waktu malam aku selalu membaca Al-Qur’an bersama Ummi. Tapi selama di Rumah Sakit kemarin, Ummi-lah yang membacakan Al-Qur’an bersama Abi dengan fasihnya, sedangkan aku hanya mendengarkan dan terbaring lemah di kasur.
          “Aini, kamu udah sembuh?” Sapa Rina sahabatku ketika hari pertama aku kembali bersekolah.
“Iya Alhamdulillah, Rin.” Jawabku sambil melontarkan senyum.
“Wah, syukur kalau begitu. Oh ya, Aflah nanyain kamu terus tuh.” Ucapnya.
Aku diam dan hanya membalas dengan senyuman.
Aflah adalah teman baikku, ‘Aflah Fauzan’ nama lengkapnya. Kami kenal dari pertama kali masuk sekolah, kami akrab karena kami memang teman dekat dikelas. Hingga pada suatu saat, Aflah mengungkapkan rasa sukanya kepadaku, tapi aku tak bisa menerimanya karena kurasa ia bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku.
          Bel istirahat pun berbunyi, segera aku merapikan buku dan bergegas pergi ke Masjid untuk melaksanakan shalat Dhuha. “Kalau Aini ingin semakin disayang dan di tambahkan rezkinya oleh Allah, sempatkan shalat Dhuha ya sayang!”. Begitulah pesan Ummi yang selalu ku ingat ketika bel istirahat berbunyi. Sesampainya di Masjid, aku segera mengambil air wudhu. Tetesan air wudhu yang membasahiku begitu menyejukkan hati dan fikiranku. Ku ambil mukena warna biru muda yang tersedia di sekolahku, kemudian akupun terlarut dalam sujud panjangku.
“Alhamdulillah, tenang rasanya. Setelah ini bisa lebih fokus belajar lagi deh.” Ucapku menyemangati. Kemudian akupun keluar untuk memakai sepatu dan kembali kekelas.
“Aini…” Panggil seseorang yang suaranya sudah tak asing lagi bagiku. Dan memang benar, itu adalah suara Aflah yang berada tak jauh dariku. Entah sejak kapan dia disini, tapi yang kulihat ia sedang mengikatkan tali sepatunya. Sepertinya ia pun baru selesai melaksanakan shalat, karena ia termasuk anak yang rajin beribadah.
“Iya, kenapa Aflah?” Tanyaku pelan.
“Senang bisa melihat kamu sudah bisa masuk sekolah lagi. Semangat selalu ya!” Katanya sambil tersenyum.
“Terimakasih, aku duluan ke kelas ya, Assalamu’alaikum.”
“Iya Aini, Wa’alaikumsalam.” Jawabnya berseri.
Aku segera kembali ke kelas meninggalkan Aflah yang ketika ku tengok masih duduk dan memandang ke arahku dari sudut Masjid, Ia lalu tersenyum, dan akupun mambalas dengan senyum. Aku tak mengerti dengan apa yang kurasa, tapi dalam hatiku terbesit rasa senang ketika bertemu dengan Aflah tadi. Mungkinkah ini…
“Astaghfirullah, faghfirli yaa Rabbana..” Ucapku memohon ampun atas apa yang baru saja kurasakan.
          Perjalanan pulang kali ini pun terasa begitu panjang, padahal jarak dari sekolah ke rumah tak begitu jauh. Dan yang kupikirkan sepanjang perjalanan adalah Aflah yang tersenyum di sudut Masjid. Setelah beberapa minggu kemudian, kupikir perasaan itu akan segera hilang, tapi ternyata aku salah. Perasaan itu semakan tumbuh menjalar dihatiku, perasaan yang baru kali ini aku rasakan. Dan aku tak dapat memastikannya. Ketika berada di rumah, yang aku lakukan pun sering banyak melamun. Dan Ummi mengetahui perubahan pada diriku.
“Aini anak Ummi, ada apa kok Ummi perhatikan sekarang ini Aini sering banyak melamun dan menyendiri. Ada apa anak Ummi yang shalehah?” Tanya Ummi sambil membelai jilbab ungu pemberian dari abi.
“Tak apa-apa kok Ummi, Aini hanya lagi senang menyendiri, Ummi.” Jawabku pelan.
Aku tak ingin Ummi khawatir dengan sikapku. Aku mencoba bersikap biasa dan berharap semuanya kembali normal seperti semula.
          Dan akhirnya ujian sekolah pun tiba. Aku melaksanakan ujian terakhir di sekolahku dengan penuh semangat. Tiga hari berlalu..
“Alhamdulillah akhirnya selesai juga ujiannya. Mudah-mudahan hasilnya memuaskan ya Rin.” Ucapku pada Rina.
“Iya Aini, mudah-mudahan. Mmm.. Aini, ini ada surat dari Aflah untukmu. Tadi di depan kantor ia menitipkan surat ini kepadaku.”
“Surat apa?” Tanyaku heran.
“Entahlah, tapi jangan-jangan surat tagihan utang lagi.” Candanya
“Rina jahat nih.” Jawabku sambil tersenyum.
“Bercanda kok, surat special sepertinya.” Rina pun mencoba menggoda.
Aku hanya tersipu malu.
          Sesampainya di rumah, setelah menyapa Ummi dan Abi, segera aku menuju ke kamar untuk beristirahat. Di malam harinya selepas melaksanakan shalat Isya, kubaca surat dari Aflah yang tadi Rina berikan padaku. Dan ternyata benar, itu adalah surat ungkapan rasa suka Aflah kepadaku. Kembali, ia mengatakan bahwa perasaannya tidak pernah berubah kepadaku, sampai detik ini. Jantungku berdegup kencang, seperti ada yang menarik ulur teramat cepat. Tapi segera ku atasi. Dengan menarik nafas panjang dan mengucap Bismillah, akupun menulis balasan surat untuk Aflah.

 Teruntuk Aflah…
Sebelumnya aku mengucapkan terimakasih untuk semua kebaikan dan perhatian yang telah kau beri padaku.
Terimakasih atas hari-hariku yang penuh harapan denganmu,
terimakasih atas canda tawa dan air mata yang terlewati denganmu,  
terimakasih untuk setiap nasihat yang kau berikan untukku,
terimakasih atas kata yang terukir indah,
kau selalu menyemangatiku, hingga saat ini…
Aku tak tahu harus membalas apa. Tapi maaf Aflah, untuk kesekian kalinya aku tak bisa menerimanya. Bukan karena aku membenci, tapi itu semua teramat berat untukku. Kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dariku untuk jadi calon mahrom bahkan Ummi dari anak-anakmu kelak.
Aku tak sempurna… sakit yang kuderita telah mengembalikan rahimku pada-Nya, kelak aku tak akan bisa melahirkan anak-anak yang shaleh serta shalehah, dan mungkin tak akan ada yang memanggilku ‘Ummi’. Tapi ku tahu itu semua tak lain karena Allah teramat sayang padaku dan Ia punya rencana yang lebih indah. Maaf, aku baru memberitahumu sekarang. Aku takut kamu kecewa. Maka dari itu, mungkin Allah belum mengizinkan kita untuk bersatu. Dan memang kita akan berpisah, karena setelah kelulusan, aku akan pindah rumah. Tapi kamu harus percaya, jika yang telah dituliskan di Lauh Mahfudz adalah diriku.. percayalah, saat itupun akan tiba.
Salam santun,
Salma Ainiyah

          Tak terasa air matapun menetes di pipiku, segera kurapikan dan kulipat surat untuk Aflah yang akan kutitipkan esok pada Rina. Akupun bergegas memejamkan mata, dan dalam sebuah harapan serta do’aku malam ini memohon agar apapun yang akan terjadi padaku dan Aflah kelak, semoga Allah memberikan yang terbaik untukku dan untuknya.


_Kupu-Kupu Dakwah
(22 Mei 2012)

Selasa, 22 Mei 2012

Muslimah Itu Anugerah



Ia lembut tapi tidak lemah
Mempesona tapi tetap bersahaja

Ia mengerti bagaimana menjaga akhlak dan kemuliaannya
Itulah yang membuatnya istimewa

Barakallahu for Muslimah...
Muslimah adalah cahaya, yang akan memberi pelita bagi dunia....


“Pondasi perbaikan bangsa adalah perbaikan keluarga,
dan kunci perbaikan keluarga adalah perbaikan kaum wanitanya.
KARENA WANITA ADALAH GURU DUNIA…
Dialah yang menggoyang ayunan dengan tangan kanannya dan mengguncang dunia dengan tangan kirinya”

[Hasan Al Banna]

Sudah Benarkah Ucapan “Aamiin” Kita ???



Bismillahirrohmanirrohiim…
Mungkin tulisan ini tidaklah seberapa penting buat sebagian orang, tapi buat saya pribadi teramat sangatlah penting sekali ( lengkap sudah kalimatnya J ). Banyak saya temui diantara teman-teman yang menulis di SMS, FB, twitter dan sebagainya  yang menurut saya kurang tepat dalam pengucapan Aamiin. Ada yang menulis “Amin”, “Amiin”,  “Aamin” bahkan tidak jarang juga ada yg menulis “Amien”.
Membaca Aamiin adalah dengan memanjangkan A (alif) dan memanjangkan min, apabila tidak demikian akan menimbulkan arti lain. Dalam Bahasa Arab, ada empat perbedaan kata “AMIN” yaitu :
1. ”AMIN” (alif dan mim sama-sama pendek), artinya AMAN, TENTRAM
2. “AAMIN” (alif panjang & mim pendek), artinya MEMINTA PERLINDUNGAN KEAMANAN
3. ”AMIIN” (alif pendek & mim panjang), artinya JUJUR TERPERCAYA
4. “AAMIIN” (alif & mim sama-sama panjang), artinya YAA ALLAH, KABULKANLAH DO’A KAMI

Terus Bagaimanakah dengan pengucapan / penulisan “ Amien “ ???
Sebisa mungkin untuk yang satu ini ( Amien ) dihindari, karena Ucapan “Amien” yang lazim dilafadzkan oleh penyembah berhala ( Paganisme ) setelah doa ini sesungguhnya berasal dari nama seorang Dewa Matahari Mesir Kuno: Amin-Ra (atau orang Barat menyebutnya Amun-Ra).
Untuk itu, marilah kita biasakan menggunakan kaidah bahasa yang benar dan jangan pernah menyepelekan hal yang sebenarnya besar dianggap kecil.

Maka yang benar adalah “
AAMIIN” (alif & mim sama-sama panjang 2 harkat), artinya YAA ALLAH, KABULKANLAH DO’A KAMI..
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan dapat diterapkan dalam keseharian….
Aamiin ^_^
 Salam Ukhuwah
Kupu-Kupu Dakwah